Setelah kasus pertamanya, Riyan mulai populer di sekolahnya dan banyak temannya yang meminta bantuan ketika mereka kehilangan sesuatu. Tidak hanya teman, ia pun mulai populer di kalangan guru dan karyawan sekolah. Karna dia berhasil membantu beberapa guru menyelesaikan kasus-kasus kecil. Hal ini membuat keempat teman terdekatnya yang tidak lain adalah Agam, Galih, Imam dan Wijaya merasa tersaingi. Hari demi hari berlalu dan hampir tidak ada lagi siswa atau siswi yang kehilangan barangnya, semuanya merasa sangat aman karna tidak ada lagi yang berani mencuri. Riyan pun mendapatkan banyak ucapan terima kasih baik dari guru maupun murid, ia pun mendapat banyak hadiah dari para siswi. Itu semakin membuat keempat temannya kesal.
Lalu pada suatu sabtu pagi pukul 08.00, kelas IPA kedatangan seorang siswi SMK saat jam pelajaran berlangsung. Semua mata mengalihkan perhatiannya pada pintu kelas, dan guru pun berhenti menerangkan. Gadis dengan rambut panjang, bertubuh langsing dan bermata coklat itu berdiri di depan pintu kelas dan terlihat sangat gelisah.
"Maaf pak ganggu, saya Evi dari kelas Akuntansi mau cari Riyan. Disuruh ke lab komputer kata Pak Arif" Kata gadis itu.
Semua orang langsung memandangi Riyan, namun Riyan hanya melihat gadis itu dengan tatapan kosong seperti terpesona. Dari semua siswi yang ditemuinya, baru kali ini dia terlihat sangat terpesona.Teman-temannya pun mengolok-ngolok Riyan sampai akhirnya ia tidak bisa berkata-kata.
"Riyan, kenapa diem aja? Cepet, Pak Arif udah nunggu tuh." Ujar guru di kelas, terlihat tidak sabar melihat Riyan yang hanya duduk terdiam. Lalu Riyan segera berjalan keluar dengan gadis itu menuju lab komputer.
"Kok, gue baru ngeliat lu yah?" tanya Riyan
"Masa sih? Padahal gue sering ngeliat lu di sekolah, dari pertama lu pindah kesini juga gue udah tau." Jawab Evi tanpa memandang wajah Riyan.
"Hmm...mungkin karna kita beda gedung yah." Balas Riyan mencoba mengakrabkan diri.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di lab komputer, di depan lab tersebut berdiri seorang kepala sekolah yang sudah menunggu kedatangan Riyan. Kepala sekolah itu terlihat sangat kebingungan dan gelisah, melihat ekspresi dari kepala sekolahnya, Riyan menduga di dalam lab komputer telah terjadi suatu kasus.
"Ada masalah apa Pak Arif?" Tanya Riyan.
"Lab ini kehilangan satu unit komputer, padahal ruangan ini tertutup rapi. Gemboknya masih terpasang, ga ada tralis jendela yang dijebol. Ga ada sedikitpun tanda-tanda kalo ruangan ini dibobol." Jawab kepala sekolah dengan suara yang lemah.
"Jadi ini yang bikin lo gelisah." Gumam Riyan kepada Evi.
"Ruangan ini belum diapa-apain kan pak?" Tanya Riyan lagi.
"Belum, baru dibuka pagi ini jam setengah 8. Dan itu jadwalnya kelas Akuntansi masuk lab ini." Jawab Kepala sekolah.
Lalu Riyan memasuki ruangan tersebut, dan mengamati meja paling kiri baris pertama yang kosong tanpa ada unit komputer di meja tersebut. Dengan tatapan kosongnya dia mengamati setiap sudut dari ruangan tersebut. Melihat ekspresi Riyan yang terlihat tidak mendapatkan banyak petunjuk, kepala sekolah pun semakin cemas dan gelisah. Evi pun meninggalkan Riyan dan kepala sekolah lalu kembali ke kelasnya. Lalu Riyan keluar dan mengamati lubang kunci pada gembok yang tergantung di pintu lab komputer.
"Tenang aja pak, saya emang belum dapet petunjuk siapa pelakunya. Tapi saya ga bakal berhenti." Ujar Riyan mengetahui kepala sekolahnya putus asa.
"Saya percaya sama kamu." Balas kepala sekolah.
"Kalo gitu, kunci lagi lab ini, jangan sampe ada yang masuk. Bapak tunggu aja di kantor, saya butuh waktu buat nyari siapa pelakunya. Satu lagi, boleh saya minta jadwal pelajaran di hari jum'at pak?"
"Boleh, kalo gitu kamu ikut saya ke kantor." Jawab kepala sekolah.
Setelah mengunci kembali pintu lab komputer, meraka pergi ke ruangan kepala sekolah. Tidak lama kemudian mereka sampai, dan Riyan terkejut ketika melihat seorang lelaki paruh baya sedang diinterogasi oleh salah satu guru. Lelaki itu bernama pak Jamri, dia adalah orang yang bertugas untuk mengunci setiap pintu yang ada di sekolah ketika jam pelajaran berakhir. Tidak heran jika para guru mencurigai pak Jamri, karna dia lah orang yang terakhir berada di sekolah dan dia juga memiliki semua kunci yang ada di sekolah. Riyan sama sekali tidak mencurigai pak Jamri, dan rupanya kepala sekolah pun memiliki pemikiran yang sama dengannya. Kepala sekolah sudah lama mengenal pak Jamri jauh sebelum sekolah dibangun, dan mereka sudah saling mengetahui sifat masing-masing. Riyan meyakinkan kepala sekolah dan gurunya, bahwa bukan pak Jamri pencurinya. Akhirnya kepala sekolah meminta agar interogasi dihentikan, dan meminta pak Jamri untuk menjaga lab komputer agar tidak ada yang mencoba masuk ke lab itu.
Sesuai dengan janji kepala sekolah, ia memberikan Riyan jadwal pelajaran semua kelas pada hari jum'at. Riyan segera keluar dari ruangan itu dan menuju pintu gerbang gedung SMA. Dan dia kembali mengamati gembok yang ada pada pintu itu, setelah itu dia mengamati gembok pada pintu gerbang utama dan pintu gerbang SMK. Semua hasilnya sama, tidak ada petunjuk yang membantu Riyan untuk menemukan pelakunya. Sampai akhirnya dia mengamati gembok di pintu kecil yang terbuat dari besi di belakang gedung SMA, pintu itu menuju ke ladang milik warga. Dan pintu itu berfungsi untuk akses masuk penjual makanan di kantin. Setelah melihat gembok itu dia tersenyum dan membuka pintu tersebut. Mengamati tembok setinggi 2,5 meter dari luar sekolah, Riyan menemukan serpihan kerikil dan semen dari tembok itu yang jatuh ke tanah. Lalu dia melangkah mundur menjauhi tembok itu dan berlari lalu melompat berusaha menggapai tembok kokoh itu. Namun dia tidak bisa menggapainya dan malah menggores tembok itu dengan sepatunya ketika berusaha memanjat. Kemudian dia menelusuri ladang milik warga tersebut, setelah hampir 500 meter dia berhenti dan memutari jalan setapak yang dia gunakan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada sungai kecil yang memotong jalan setapak tersebut. Di tepian sungai Riyan menemukan puntung rokok kretek. Riyan pun kembali dari ladang tersebut dan masuk kembali ke sekolahnya lalu beristirahat sendirian di kantin sekolah, dikarenakan bel istirahat belum berbunyi.
Dia kemudian membaca jadwal pelajaran yang telah diberikan oleh kepala sekolahnya. Satu jam berlalu dan bel istirahat pun berbunyi, dengan segera Riyan mengirim pesan ke empat temannya, agar mereka tidak meninggalkan kelas saat istirahat. Ketika kantin mulai dipenuhi para siswa dan siswi, Riyan pergi meninggalkan kantin menuju kelasnya. Sesaimpainya di kelas, keempat temannya mengikuti apa yang dikatakan Riyan pada pesannya. Mereka menunggu dengan wajah yang penasaran.
"Baru kali ini gue berhadapan sama orang cerdas di sekolah ini, mungkin dia orang tercerdas nomer dua di sekolah ini." Kata Riyan pada teman-temannya.
"Pasti lo mau bilang, lo orang tercerdas nomer satu di sekolah ini kan!" Gumam Galih merasa kesal.
"Udah lah..emang ada kasus apa yan?" Tanya Wijawa penasaran.
"Pencurian komputer di ruang tertutup." Jawab Riyan.
"Paling juga orang dalem." Kata Galih dengan sangat percaya diri.
"Udah berapa kali gue bilang, orang bodoh itu selalu berisik." Balas Riyan dengan lantang.
"Galih mah bukan bodoh, dia mah bodoh banget." Sahut Agam mencairkan suasana.
"Untuk kasus yang rumit ini, gue butuh bantuan kalian." Kata Riyan sambil menahan tawa.
"Hmm..akhirnya lu butuh bantuan gue juga kan." Balas Galih sambil menatap Agam dengan sinis.
"Oke...kalian periksa kelas Elektro 1, Otomotif 1 sama Otomotif 3. Cari orang yang lebih tinggi dari gue, kira-kira setinggi Jawir, berbadan atletis." Jawir adalah panggilan untuk Wijaya dari Riyan.
"Ngondek, gue punya tugas khusus buat lu. Coba cek tiga toko bangunan sekitar sini, apa ada orang seumuran kita yang beli dua gembok di minggu ini." Dan Ngondek adalah panggilan untuk Imam.
"Jam sekolah kan masih ada, gimana gue bisa keluar?" Tanya Imam.
"Bilang aja ke satpam, gue yang nyuruh lo keluar." Balas Riyan.
Setelah mendapat instruksi dari Riyan Agam, Galih dan Wijawa bergegas memasuki gedung SMK dan mencari orang yang Riyan deskripsikan di kantin SMK. Sedangkan Imam berlari mengambil sepeda motornya dan pergi meninggalkan sekolah. Riyan sendiri pergi ke lab komputer untuk menemui Pak Jamri. Sesampainya disana Riyan bertemu kembali dengan gadis yang membuatnya terpesona bersama dengan pak Jamri. Rupanya pak Jamri adalah kaka dari ayahnya Evi, karna itulah Evi sangat terlihat cemas dan gelisah. Dia sangat menghawatirkan kaka dari ayahnya itu. Lalu Evi memandang wajah Riyan dan berharap agar Riyan menemukan pelakunya secepat mungkin. Karna tatapan mata Evi wajah Riyan memerah dan itu membuatnya terdiam. Tidak lama kemudian bel pun berbunyi pertanda jam istirahat berakhir. Evi pun meninggalkan mereka berdua untuk kembali ke kelasnya. Akhirnya Riyan memiliki kesempatan untuk berbinya dengan pak Jamri, dia tidak bisa berkata apapun saat ada Evi. Riyan menanyakan bagaimana keadaan sekolah saat pak Jamri hendak mengunci pintu.
"Semuanya normal seperti biasa, ga ada yang aneh. Saya ngunci semua pintu, kuncinya saya simpan di ruang penyimpanan. Cuma dua kunci yang saya bawa pulang, kunci ruang penyimpanan sama kunci gerbang utama." Kata pak Jamri.
"Waktu bapa buka sekolah ini, apa ada yang aneh?" Tanya Riyan.
"Ga ada, semuanya normal, saya buka pintu g erbang utama, setelah itu baru ke ruang penyimpanan. Ruang penyimpanannya juga masih sama seperti saat terakhir saya kunci." Jawab pak Jamri.
"Hmm...akhirnya ada sedikin pencerahan." Kata Riyan sambil tersenyum lega.
Setelah hampir satu jam berlalu, ketiga temannya kembali ke gedung SMA. Riyan kembali mengirimkan pesan untuk menemuinya di lab komputer. Setelah mereka sampai di lab komputer, dengan tidak sabar Riyan bertanya siapa saja yang mereka temukan. Wijaya menjawab ada tiga orang yang sesuai deskripsi di kelas Elektro 1, empat orang di kelas Otomotif 1 dan satu orang di kelas Otomotif 3. Wijaya pun memberikan foto dari setiap orang yang dia sebutkan. Agam mengenal dua dari empat orang di kelas Otomotif 1, dia mengatakan salah satu dari mereka adalah orang yang sangat berkecukupan, dan juga orang yang sombong. Sedangkan yang satunya orang yang sederhana dan sangat bodoh, dia sering dibohongi dan dikelabui oleh teman-temannya. Agam mengira kedua orang yang dia kenal bukanlah orang yang Riyan maksud, Riyan pun sependapat dengan Agam.
Tersisa enam orang dari tiga kelas yang berbeda, dan Riyan masih belum mengetahui pasti siapa pelakunya. 10 menit sebelum jam pelajaran berakhir, Imam kembali ke sekolah, Imam melihat Riyan dan yang lainnya berada di depan lab komputer. Setelah memarkirkan sepeda motornya, ia bergegas menemui Riyan.
"Gimana ngondek?" Tanya Riyan berharap mendapat jawaban yang ia ingin dengar.
"Kata karyawan di toko Lancar Jaya, waktu hari kamis ada siswa sekolah ini yang beli dua gembok. Tapi dia ga inget orangnya yang mana!" Jawab Imam.
"Sayang sekali, tapi ga apa-apa. Kita bisa persempit lagi enam orang yang tadi. Oke, kerja bagus semuanya, mungkin hari senin kita bisa tangkep pelakunya." Ujar Riyan.
Bel pun berbunyi, Riyan dan keempat temannya berjalan meninggalkan lab dan kembali ke kelasnya untuk mengambil tas dan pulang. Namun Riyan malah berbelok dan masuk ke ruangan kepala sekolah. Keempat temannya penasaran namun tidak berani memasuki ruangan tersebut, mereka hanya menunggu Riyan keluar dari ruangan tersebut. Hanya lima menit berlalu Riyan sudah keluar dari ruangan itu, lalu mereka segera menghampiri Riyan dan bertanya apa yang dia rencanakan. Riyan hanya menjawab agar temannya harus bersabar dan menunggu sampai hari senin.
Keesokan harinya ketika sekolah libur, Galih mengajak Agam, Imam dan Wijaya untuk pergi ke sekolah. Dia ingin mengungguli Riyan dalam menyelesaikan kasus ini, mereka sepakat untuk bekerja sama dan mendatangi sekolah. Di hari minggu hanya ada pak Jamri yang berjaga, lalu Galih bertanya apa saja yang Riyan lakukan kemarin. pak Jamri menjelaskan apa yang diketahuinya, lalu mereka melakukan hal yang sama seperti yang Riyan lakukan. Namun mereka tidak mendapatkan apapun, jauh lebih nihil dibandingkan dengan hasil yang Riyan dapatkan. Hingga akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk bersabar menunggu hari senin.
Senin yang ditunggu pun datang, mereka berangkat pagi sekali karna sudah tidak sabar, seperti biasanya setiap hari senin diadakan upacara bendera. Semua murid dikumpulkan di satu tempat, namun Riyan tidak ada dibarisan manapun. Keempat temannya merasa sangat kesal karena Riyan malah tidak hadir. Saat itu cuaca cukup cerah dan panas, semakin membuat mereka tidak sabar menunggu Riyan. Setelah upacara berakhir, mereka kembali ke kelas dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Riyan tertidur dikelas.
"Kampret...lu malah tidur lagi, bangun..bangun !! Kata Galih tidak sabaran.
"Ngumpet dimana lu yan? Gak mungkin di kamar mandi kan, soalnya sebelum upacara semua kamar mandi dicek." Tanya Agam.
"Kalo gue kasih tau senin depan pasti kalian ga bakal ikut upacara." Jawab Riyan.
"Sialan, dasar kibulist." Kibulist merupakan panggilan untuk Riyan dari semua anak IPA.
"Jadi gimana? Udah ketemu malingnya?" Tanya Galih.
"Udah dong. Malah gue udah punya nomer hp dia." Jawab Riyan dengan santai.
"Hahhh..??!! Jadi di antara enam orang kemaren siap?"
"Enam orang kemaren udah gue persempit jadi tiga orang." Rumah pelakunya sekitar sini juga, dari keenam orang itu cuma tiga yang tinggal di daerah sini."
"Jangan bertele-tele lah, siapa malingnya?"
"Kalo mau tau ikut gue ke ruang kepala sekolah!"
Dengan segera keempat temannya mengikuti Riyan ke ruangan kepala sekolah, sikap Riyan yang begitu santai namun percaya diri membuat mereka semakin kesal. Mereka memaksa Riyan untuk mempercepat langkahnya agar segera sampai ke ruangan kepala sekolah. Akhirnya mereka pun sampai di tujuan.
"Bapak bisa panggil anak Otomotif 3 namanya Andreas Garmando ke ruangan ini?" Tanya Riyan.
"Bisa saja, tapi kamu yakin ga salah orang?" Tanya pak Arif.
"Apa saya keliatan gak yakin pak?" "Kalo gitu biar saya suruh pak Jamri buat manggil anak itu."
Setelah 7 menit menunggu, pak Jamri datang dengan seorang siswa berbadan atletis, tinggi dan berambut cepak. Sikapnya sangat tenang dan mantap, namun ketika ia melihat Riyan berada di ruangan kepala sekolah, mendadak ia mengerutkan dahinya. Namun siswa itu tetap berusaha tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Lu udah tau kan kenapa dipanggil ke ruangan ini! Kata Riyan dengan ramah.
"Maksudnya?" Tanya Andreas terlihat polos.
"Ayolah...gue udah tau gimana lo bisa keluar masuk sesuka lo ke lab komputer, malah gue tau lo bawa karung buat gembol itu komputer. CPU-nya lo taro paling bawah, trus lo angkut dipundak kiri lo, dan lo juga perokok kretek."
Semuanya mendadak terdiam dan kebingungan, dan si pelaku menatap Riyan keheranan, wajahnya benar-benar menggambarkan pertanyaan bagaimana Riyan bisa tau semua itu.
"Tolong kamu jelasin apa yang kamu tau yan, semua orang disini gak sepintar kamu?" Kata pak Arif merasa benar-benar tidak mengerti apapun.
"Kita mulai dari awal. Dia nuker dua gembok di sekolah ini, satu di lab, yang satunya lagi di pintu belakang Gedung SMA. Dia masuk lewat pintu belakang manjat tembok, trus dia ke lab buka gemboknya pake kunci serep yang dia simpen. Dia cabut kabel yang tersambung, trus dia masukin komputer ke karung. Terus dia keluar lewat pintu belakang, tentunya buka gembok pake kunci yang dia simpen. Keluar, naro gembolannya depan pintu, dia masuk lagi dan ngunci pintu belakang. Cukup cerdas, bikin skenario ruangan tertutupnya. Karna barang bawaannya cukup berat dia berenti sekitar 500 meter dari pintu belakang naro bawaannya di tanah, ada bekas persegi panjang di tanah itu yang ukurannya sama kaya CPU yang ilang di lab, dia angkat lagi trus berenti depan sungai kecil yang ada disana, istirahat sambil ngeroko kretek di pinggir kali bener-bener santai. Dia punya kesempatan ini karna kunci pintu lab komputer udah ga guna, pintu itu cuma ngandelin gembok aja."
"Sekarang jelasin gimana kamu bisa tau dia yang ngambil."
"Dari luar tembok belakang gedung SMA saya nemu serpihan bahan bangunan tembok di tanah. Saya coba buat manjat tembok itu, tapi ga bisa, sepatu saya malah ngegores dan bahan bangunan tembok jatoh ke tanah. Dari situ saya tau cara dia masuk dan tingginya. Terus di lab komputer saya nemu serabut karung yang nyangkut di bagian ujung meja sebelah kiri dari meja yang dia ambil komputernya, dari situ saya tau kalo dia kidal, jadi dia angkat karungnya di pundak kiri. Dan gimana saya bisa tau gemboknya dituker, satu hari sebelum kasus ini, itu jadwal kelas IPA masuk lab, saya tanpa sengaja merhatiin gemboknya, gemboknya emang masih keliatan baru tapi kuncinya udah banyak goresan karna disatuin sama kunci lain. Waktu bapa manggil saya ke lab dan nunjuk gemboknya, saya langsung tau ada perbedaan, kuncinya masih mulus banget, saya perhatiin lubang kuncinya, ternyata masih mulus tanpa ada goresan, lalu saya perhatiin gembok yang lain, lubang kuncinya udah banyak goresan. Nah gembok yang ada di pintu belakang, kondisinya sama persis kaya gembok di lab. Semua gembok emang masih keliatan baru, karna pengelihatan pak Jamri udah ga bagus, dia kesulitan masukin kuncinya. Jadi di sekitar lubang kuncinya banyak goresan. Dari situ saya tau ada dua gembok baru."
"Nah sekarang lumayan jelas, silahkan lanjutin."
"Waktu hari minggu saya minta bantuan sama temen saya anak IPS, nama nya Niko. Dia warga sekitar sini, jadi saya tanya apa dia kenal sama tiga orang yang saya curigai. Dia kenal ketiganya, trus saya tanya lagi, dari ketiga itu apa dia tau ada yang kidal. Dia langsung menunjuk foto Andreas, saya langsung nyuruh dia pergi buat nemuin Andreas ke rumahnya, tapi Andreas ga ada, dia lagi maen di tempat tongkrongannya. Niko langsung ke TKP, saya udah ngasih niko dua bungkus rokok yang beda, satu mild, satunya lagi kretek. Saya minta ke Niko buat nawarin keduanya sama Andreas, dan ternyata dia ngambil rokok kretek, kretek yang sama yang saya temukan di pinggir kali. Dengan ini saya nyatakan dia pelakunya dan bukan pak Jamri."
"Kamu emang brilian."
"Makasih pak !!!"
Setelah itu Andreas pun dikeluarkan dari sekolah dan orang tuanya dimintai pertanggung jawaban untuk mengganti rugi. Sekeli lagi Riyan mendapat sanjungan dari guru dan bahkan kepala sekolahnya, namun kali ini ada yang lebih berkesan dibanding sebelumnya. Riyan menerima pin bergambar bola basket dari Evi sebagai ucapan terima kasihnya, Evi mengatakan itu adalah benda kesayangannya. Hal itu membuat Riyan semakin gembira dan kegirangan.
Cukup bagus... Romansanya tambahin ya.. Kasih adegan ajarin temen2 rian kyk si imam buat kenalan sm cewe dg ilmu deduksi... Lanjut...ditunggu lagi ceritanya
BalasHapusMakasih buat masukannya bro, tapi di sini sebenernya mereka pada saingan. Jadi pada gengsi kalo minta bantuan ke riyan. :D
BalasHapusBagus,Membuat penasaran,analisa nya OK,tapi Evi siapa tuh.. spesial banget kya nya sampai sekarang masih rela menjomblo... :D
BalasHapusHahahah...
BalasHapusini cuma cerita Ceppriatna :D
cerita yang bagus. Aku suka. Tapi, sedikit kasihan sama si Galih sering dibilang bodoh. Skali-skali teman-temannya dibuat terkesan lebih dari Riyan meskipun sedikit :D
BalasHapusMakasih buat sarannya. Tunggu chapter 03, di situ ada yg ngalahin riyan
BalasHapussama-sama.
BalasHapusasyik. gak sabar.. :D