Pada hari senin, 01-april-2013 kelas IPA lagi-lagi menerima kejutan. Seakan tidak pernah ada hal yang sama di kelas ini, selalu ada hal baru setiap harinya. Kejutan itu terjadi tak lama ketika jam pelajaran dimulai, Pak Ngadio yang tidak lain adalah wakil kepala sekolah mengetuk pintu kelas IPA. Beliau membawa seorang anak laki-laki yang kurus, tinggi dan berhidung mancung ke kelas IPA. Anak itu dipersilahkan masuk untuk memperkenalkan diri. Lalu dia melangkahkan kakinya dan berdiri di depan kelas. Tentu saja hal itu membuat semua mata tertuju pada satu titik, dan semua siswa yang mengobrolpun terdiam.
"Perkenalkan, nama saya Kevin Safyar. Saya dari Jakarta, salam kenal semuanya." Kata anak itu, dengan tenang tanpa terlihat canggung seakan ia sudah terbiasa memperkenalkan diri di depan kelas.
"Silahkan kamu pilih tempak duduk yang kamu mau, ada tiga bangku kosong di kelas ini." Lanjut Pak Ngadio.
Anak itupun berjalan menghampiri Riyan yang saat itu sedang duduk sendiri, dan meminta izin untuk duduk di sebelahnya. Agam menunduk dan menggeleng-gelengkan kepala, seolah memberitahukan bahwa Kevin memilih tempat duduk yang salah. Pelajaran kembali dimulai dengan satu tambahan murid baru, setelah satu jam menerangkan, Pak Subhan memberikan tugas berjumlah 10 soal pada saat itu. Kemal yang selama ini menjadi juara kelas mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, lain halnya dengan keempat teman terdekat Riyan, mereka sangat bersantai dan menunggu jawaban dari orang lain.
"Yang sudah boleh istirahat, buat yang nyontek nanti bapak kurangi nilainya. Bapak tau ko siapa yang ngerjain dan siapa yang nyontek." Kata Pak Subhan sambil menatap ke arah Galih.
"Sial, gue ketauan." Gumam Galih.
Belum 30 menit berlalu Kevin berdiri dan mengumpulkan lembar jawabannya, Kemal terkejut karna biasanya dialah orang pertama yang mengumpulkan tugas. Riyanpun tersenyum, dia mengetahui bahwa Kevin bukan anak yang bodoh seperti temannya yang lain. Akhirnya satu per satu murid mengumpulkan tugasnya, dan tugaspun berakhir, Agam, Galih, Imam dan Wijaya pergi menuju kantin meninggalkan Riyan yang sedang asik bermain game dengan Sekar. Mereka menghampiri Kevin dan memperkenalkan diri, Kevin orang yang sangat ramah sehingga mereka berlima terlihat seperti teman lama. Galih memperingati Kevin bahwa Riyan memang bukan orang jahat, tapi dia orang yang sangat menyebalkan, Riyan tidak pernah memilih-milih apakah dia orang baru atau orang sudah lama dikenal, Riyan akan memperlakukan hal yang sama.
Hari demi hari berlalu dan Kevin semakin akrab dengan teman sekelasnya. Lalu pada hari kamis, saat jam istirahat Oktami yang tidak lain adalah sekretaris kelas menghampiri Kevin yang sedang berkumpul bersama Agam, Galih, Imam, dan Wiajaya untuk memberitahukan jadwal piket baru yang ia buat.
"Vin, jadwal piket lo hari kamis yah. Kamis kita kekurangan orang soalnya, sebenernya gak kurang sih cuma Riyan males banget orangnya gak pernah piket, dia mah ga peduli lingkungan." Kata Oktami.
"Gue denger loh tam". Sahut Riyan yang tiba-tiba berada di belakang Oktami.
"Riyan itu orang yang peduli lingkungan tam." Kata Kevin
"Lo salah banget vin, lo belom kenal dia sih." Kata Galih mencoba menegaskan.
"Gue kira yang lebih kenal sama dia bakal tau kalo dia itu peduli lingkungan." Balas Kevin.
"Orang dia ga pernah piket, lagian lo tau dari mana kalo dia peduli lingkungan?"
"Dari noda saos yang ada di kantong celananya!"
"Nah loh?? Apa hubungannya???"
"Gue yakin tadi dia makan gorengan di kantin, tentunya pake saos. Dan dia makannya belepotan, tapi dia ga nyadar. Pas mau balik ke sini dia papasan sama orang yang ngasih tau kalo di mulutnya ada saos, trus dia minta tisu ke orang itu. Karna di deket situ gak ada tong sampah jadi dia kantongin dulu tisunya, jalan lagi ke sini trus dia buang tisunya di tong sampah depan kelas IPS. Jelas sekali kalo dia ga mau buang sampah sembarangan."
"Wow...." Kata Galih sangat terkesan dengan yang Kevin katakan.
Tidak bisa dipungkiri, semua yang dikatakan Kevin adalah benar. Riyanpun sangat terkejut dan tercengang dengan kemampuan pengamatan yang dimiliki Kevin. Keempat temannya tertawa sinis seakan-akan ingin menjatuhkan Riyan. Selama ini tidak ada orang yang bisa mengalahkan Riyan dalam hal-hal kecil dan detil. Keempat temannya seperti menaruh harapan pada Kevin untuk mengalahkan Riyan, terutama Galih. Dia sangat menginginkan orang yang bisa membuat Riyan tercengang.
"Tebakan yang beruntung banget." Kata Riyan tidak mau mengalah.
"Mana ada beruntung sepanjang itu." Balas Galih tertawa sinis.
"Emang setengahnya tebakan beruntung sih." Kata Kevin merendah.
"Coba sekali lagi, apa yang lo bisa dapet dari Jawir?" Tanya Riyan.
"Gak banyak sih, dia suka warna liverpool."
"Idih keren banget bisa tau!" Sahut Wijaya.
"Gue cuma ngeliat aja ko. Mata lo merah kaya orang yang sering ngeclub, tapi pastinya bukan itu penyebabnya, jam 2 pagi tadi ada pertandingan Liverpool, gue rasa lo nonton itu sampe subuh, jadinya lo kurang tidur dan hasilnya mata lo merah."
"Tapi kan bisa aja dia suka sama tim lawan, dari mana lo bisa tau kalo dia Liverpudlian?" Tanya Agam.
"Tadi di kantin gue liat dia ngobrol sama Ardi, bukan Ardi kelas kita tapi kelas IPS yang orang asalnya dari Bandung itu..."
"Ntar dulu, dari mana lu tau kalo si Ardi dari Bandung?" Tanya Agam lagi memotong pembicaraan Kevin.
"Pas di kantin tadi si Ardi mesen "somay", tapi dia bilangnya "baso tahu" cuma orang Bandung yang bilang somay itu baso tahu. Gue pernah pindah ke Bandung, jadi gue tau."
"Mantep banget!!!" Balas Agam.
"Nah, jadi tadi di Kantin mereka berdua keliatan seneng banget, dan gue perhatiin sabuknya si Ardi yang ternyata gambarnya Liverpool FC. Dari situ gue tau kalo mereka Liverpudlian." Kata Kevin melanjutkan yang terpotong oleh Agam.
"Tadi di kantin gue liat dia ngobrol sama Ardi, bukan Ardi kelas kita tapi kelas IPS yang orang asalnya dari Bandung itu..."
"Ntar dulu, dari mana lu tau kalo si Ardi dari Bandung?" Tanya Agam lagi memotong pembicaraan Kevin.
"Pas di kantin tadi si Ardi mesen "somay", tapi dia bilangnya "baso tahu" cuma orang Bandung yang bilang somay itu baso tahu. Gue pernah pindah ke Bandung, jadi gue tau."
"Mantep banget!!!" Balas Agam.
"Nah, jadi tadi di Kantin mereka berdua keliatan seneng banget, dan gue perhatiin sabuknya si Ardi yang ternyata gambarnya Liverpool FC. Dari situ gue tau kalo mereka Liverpudlian." Kata Kevin melanjutkan yang terpotong oleh Agam.
Semuanya dibuat terkagum-kagum oleh Kevin, tidak terkecuali Riyan yang dibuatnya terdiam. Keberadaan Kevin membuat kecerdasan Riyan terlihat biasa-biasa saja, tentu saja hal ini membuat keempat temannya merasa senang karna akhirnya ada orang yang bisa membungkam kesombongan Riyan.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, semuanya serentak menoleh ke arah pintu. Hal yang tak terduga pun terjadi lagi, Evi untuk kedua kalinya mendatangi kelas IPA. Sama seperti sebelumnya, ia bermaksud untuk menemui Riyan, dengan sedikit malu dia memasuki ruang kelas IPA dan menghampiri Riyan. Rupanya ada seseorang misterius yang mengirimkan pesan padanya, tidak seperti pesan iseng lainnya, pesan ini dikirim oleh orang yang bernama Aya. Evi mengatakan bahwa ia tidak pernah menyimpan kontak dengan nama tersebut, tentu saja hal ini membuat dia penasaran hingga akhirnya dia meminta bantuan pada Riyan untuk mencari siapa orang misterius tersebut.
Keempat temannya memberitahukan pada Evi, bahwa Kevin tidak kalah cerdas dari Riyan dan Kevin bisa sangat membantu untuk mencari orang tersebut, yang mereka inginkan sebenarnya adalah agar Kevin mengalahkan Riyan. Ditambah lagi orang yang meminta tolong adalah Evi, mereka mengetahui betul jika Riyan menyukai Evi, jika Riyan kalah pada kasus ini, maka ia pasti akan merasa terpukul dan malu.
Riyan meyakinkan Evi jika Kevin memang orang cerdas dan mungkin bisa membantu untuk mencari orang tersebut. Tanpa merasa ragu ia menantang Kevin untuk berlomba mencari orang tersebut dan trik apa yang ia gunakan sehingga namanya tersimpan dalam kontak ponsel Evi. Dengan dorongan dari keempat temannya, akhirnya Kevin pun mau menerima tantangan tersebut. Riyan segera memberikan ponsel Evi yang ia genggam kepada Kevin dan menyuruhnya membaca isi pesan tersebut. Pesan itu dikirim pukul 11.00 siang dan berbunyi "Selamat".
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, semuanya serentak menoleh ke arah pintu. Hal yang tak terduga pun terjadi lagi, Evi untuk kedua kalinya mendatangi kelas IPA. Sama seperti sebelumnya, ia bermaksud untuk menemui Riyan, dengan sedikit malu dia memasuki ruang kelas IPA dan menghampiri Riyan. Rupanya ada seseorang misterius yang mengirimkan pesan padanya, tidak seperti pesan iseng lainnya, pesan ini dikirim oleh orang yang bernama Aya. Evi mengatakan bahwa ia tidak pernah menyimpan kontak dengan nama tersebut, tentu saja hal ini membuat dia penasaran hingga akhirnya dia meminta bantuan pada Riyan untuk mencari siapa orang misterius tersebut.
Keempat temannya memberitahukan pada Evi, bahwa Kevin tidak kalah cerdas dari Riyan dan Kevin bisa sangat membantu untuk mencari orang tersebut, yang mereka inginkan sebenarnya adalah agar Kevin mengalahkan Riyan. Ditambah lagi orang yang meminta tolong adalah Evi, mereka mengetahui betul jika Riyan menyukai Evi, jika Riyan kalah pada kasus ini, maka ia pasti akan merasa terpukul dan malu.
Riyan meyakinkan Evi jika Kevin memang orang cerdas dan mungkin bisa membantu untuk mencari orang tersebut. Tanpa merasa ragu ia menantang Kevin untuk berlomba mencari orang tersebut dan trik apa yang ia gunakan sehingga namanya tersimpan dalam kontak ponsel Evi. Dengan dorongan dari keempat temannya, akhirnya Kevin pun mau menerima tantangan tersebut. Riyan segera memberikan ponsel Evi yang ia genggam kepada Kevin dan menyuruhnya membaca isi pesan tersebut. Pesan itu dikirim pukul 11.00 siang dan berbunyi "Selamat".